Pemilihan lokasi akuakultur terutama harus mempertimbangkan topografi, tanah, sumber air, lingkungan, transportasi, listrik, dan kondisi lainnya.
1. Pilihan medan. Yang terbaik adalah memilih plot yang nyaman untuk irigasi dan drainase sendiri, dan kemiringan tanah kurang dari 2,5% untuk membangun kolam. Lokasi yang rawan banjir tidak cocok untuk konstruksi.
2. Pemilihan tanah. Tanah yang ideal untuk konstruksi kolam adalah lempung. Karena memiliki permeabilitas air yang rendah, retensi air yang kuat, dan kualitas tanah yang sedang. Unsur hara tidak mudah hilang, aerasi yang baik, kondusif untuk penguraian bahan organik, umpan alami di kolam paling mudah berkembang biak, air kolam mudah dipupuk, dan merupakan tanah dengan koordinasi yang baik antara air, pupuk, udara, dan kondisi panas. Diikuti oleh tanah liat. Pasir dan lumpur tidak cocok untuk konstruksi.
3. Pemilihan sumber air. Pasokan air dari sumber air harus mencukupi, dan perhatian khusus harus diberikan untuk mempertahankan jumlah air tertentu di musim kemarau. Kualitas air dari sumber air harus segar dan bebas polusi, dan kualitas air harus sesuai dengan "Standar Kualitas Air Perikanan".
4. Pilihan lingkungan. Tidak ada polusi dari industri atau ternak dan unggas di lingkungan sekitar, dan lingkungannya tenang. Sinar matahari harus cukup, yang kondusif untuk meningkatkan suhu air akuakultur dan pertumbuhan ikan.
5. Kondisi lalu lintas. Transportasi harus nyaman untuk pengangkutan bibit, pakan, dan produk.
6. Kondisi daya. Harus ada catu daya yang dapat memenuhi daya produksi aerator, pengumpan umpan, pompa dan mesin pemuliaan lainnya serta daya harian personel manajemen. Hanya dengan listrik, pengembangan budidaya intensif dengan kepadatan tinggi dan manfaat yang baik dapat dicapai.